Skip to main content

Nyeri Pinggang Habis Angkat Beban? Hati-Hati Saraf Kejepit

Menurut dokter tren saraf kejepit semakin umum di kalangan anak muda. (Foto: Thinkstock) Menurut dokter tren saraf kejepit semakin umum di kalangan anak muda. (Foto: Thinkstock)

Jakarta - Anak muda jaman kini bahagia sekali berolahraga ke gym. Kalau kau salah satunya ya elok sih, artinya kau telah sadar untuk menjalani gaya hidup yang baik. Akan tetapi, apa kau sudah menerapkan agenda yang sempurna dan tidak memaksakan dirimu?

Dr dr Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP, dari Lamina Pain and Spine Center, RS Meilia Cibubur, menyebutkan bahwa ia menemukan beberapa fenomena saraf kejepit yang dialami anak muda alasannya teladan nge-gym yang kurang pas.

"Orang muda yang ngegym kini ngetren kan. Biasanya mereka masuk ke gym alasannya pengen olahraga, ada yang juga alasannya diajak temen pada dasarnya untuk mengurangi berat badan, ada juga yang bentuk otot semoga kelihatan atletis, sayangnya saya perhatikan teladan yang diterapkan itu kurang pas sehingga belum waktunya ototnya besar lengan berkuasa beliau sudah angkat beban. Beberapa masalah terjadi HNP (Herniated Nucleus Pulposus atau saraf kejepit) di pinggang alasannya angkat beban," terang dr Wawan.



Terlebih untuk belum dewasa muda yang hidup di kota besar yang cenderung jarang olahraga. Karena itu, pembentukan otot memang cenderung dilakukan pada saat-saat khusus untuk berolahraga saja menyerupai momen nge-gym. Nah, belum jadi ototnya, beberapa orang sudah memaksakan diri mengangkat beban terlalu berat.

"Jadi ototnya generasi milenial itu jika kita pegang itu ototnya lembek-lembek, kita teken, periksa, itu lembek. Otot yang lembek itu beliau pakai untuk angkat beban. Terjadi kekalahan pada alas tulangnya, itu terjadi beberapa kasus."

Comments

Popular posts from this blog

Potential Blood And Body Waste Check For Syndrome Greeted With Skepticism

A research team at the University of statesman claims to own developed blood and body waste tests which will effectively indicate syndrome in youngsters. The study, exploitation advanced machine learning algorithms designed to spot variations in blood and body waste between syndrome spectrum disorder (ASD) subjects and healthy youngsters, suggests a spread of recent biomarkers that might be associated with the condition. A big hunt is presently afoot for a transparent biomarker which will enable doctors Associate in Nursing objective pathological thanks to diagnose ASD. presently the sole thanks to diagnose the condition is thru behavioural assessments, and most kids are not known as unfit till once the age of 4. The condition is undeniably advanced, with several researchers recognizing the causes as stock-still in Associate in Nursing elusive combination of genetic variants and environmental factors. Previous analysis has recommended Associate in Nursing assortment of attainabl...

10 Hoax Kesehatan Yang Sering Beredar Di Whatsapp Dan Facebook

Massa tergabung dalam Gerakan Muda Anti Hoax (GEMA HOAX) mendesak polisi semoga tindak tegas penyebar hoax. (Foto: Lamhot Aritonang) Jakarta - Whatsapp dan Facebook sering jadi aplikasi yang dipakai orang-orang untuk bertukar informasi. Di dalamnya sering juga muncul hoax-hoax kesehatan. Bagaimana cara supaya kita sanggup mengetahui mana informasi kesehatan di Whatsapp dan Facebook yang patut dicurigai? Sekretaris Jendral Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Dr Berry Juliandi, Msi, menyampaikan biasanya hoax bermain dengan informasi yang membawa pesan impian atau ketakutan. Diperlukan perilaku kritis selalu mewaspadai informasi sehingga tidak gampang untuk mendapatkan informasi gres di Whatsapp dan Facebook . Sebagai pola setidaknya beberapa hoax ini selalu diulang beredar tidak ada matinya di Whatsapp dan Facebook: 1. Main ponsel di kawasan gelap sebabkan tumor mata Informasi soal ancaman main ponsel sambil tiduran seringkali kita dapatkan, mulai dari pesan berisi bahaya-baha...

Hai Wanita, Jangan Terlalu Usang Duduk Bila Masih Sayang Jantung

Usahakan tetap bergerak di kantor demi kesehatan jantung ya Ladies. Foto: Thinkstock Jakarta - Wanita yang suka berolahraga mempunyai sedikit risiko terkena penyakit jantung dibandingkan dengan mereka yang suka duduk dalam waktu lama. Melakukan kegiatan fisik sanggup menurunkan risiko perempuan terkena penyakit kardiovaskular lebih dari 10 persen dan penyakit jantung lebih dari 25 persen. Studi gres telah menunjukkan, bahwa seseorang yang mengurangi duduk dan melaksanakan kegiatan fisik sanggup mengurangi risiko beberapa penyakit ibarat ginjal, paru-paru, hati dan kanker. Dikutip dari Daily Mail , tim dari University of California, San Diego, melaksanakan penelitian untuk mengetahui apakah duduk dalam waktu yang usang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Terungkap, untuk setiap perempuan yang melaksanakan kegiatan fisik mempunyai risiko penurunan 12 persen untuk penyakit kardiovaskular dan risiko penyakit jantung 26 persen lebih rendah. Baca juga: Ciri-ciri Pria dengan J...