Skip to main content

3 Kondisi Yang Menerangkan Seseorang Terlalu Tegang Nonton Debat Capres

Suasana menonton debat capres (Foto: Rengga Sancaya) Suasana menonton debat capres (Foto: Rengga Sancaya)

Jakarta - Debat Calon Presiden (Capres) putaran kedua akan digelar hari ini, Minggu (17/02/2019). Layakya debat pada umumnya, selalu ada kemungkinan terlontar pernyataan dari kontestan yang memancing emosi para penonton.

Menghadapi kondisi tersebut, psikolog klinis Felicia Illina Nainggolan menjelaskan 3 kondisi yang sebaiknya diwaspadai. Jika 3 tanda ini muncul sebaiknya segera tenangkan diri, jangan hingga terbawa emosi kemudian jadi semakin stres.

"Sebelum emosi terpancing sebaiknya waspadai munculnya 3 kondisi ini. Tanda ini ialah mulai muncul kalimat bernafsu atau kritikan tidak enak, enggan mendengarkan, dan perubahan kondisi fisik," kata psikolog yang kerap disapa Cia ini pada detikHealth.



Cia menjelaskan, kalimat atau kata-kata bernafsu bukan hanya yang telah terucap. Namun harus mulai diwaspadai juga ketika di pikiran mulai muncul impian untuk mengucapkannya. Hal yang sama berlaku untuk impian tidak mendengarkan argumen.

Untuk perubahan kondisi fisik, Cia menjelaskan ada 2 kondisi khas. Kondisi tersebut ialah tubuh terutama leher yang terasa pegang dan wajah terasa panas. Hal ini membuktikan mulai adanya perubahan emosi, yang dapat saja terlontar dalam bentuk perkataan atau perbuatan.

Jika tanda tersebut muncul namun tetap ingin mengikuti materi debat, Cia menyarankan nonton melalui jalan masuk lain misal tayangan online. Hal ini untuk mencegah ledakan emosi sesaat yang dapat berakibat jelek bila tidak diantisipasi.




Tonton video: Kepanikan Akibat Ledakan Dekat Lokasi Debat Pilpres 2019

[Gambas:Video 20detik]

Comments

Popular posts from this blog

Potential Blood And Body Waste Check For Syndrome Greeted With Skepticism

A research team at the University of statesman claims to own developed blood and body waste tests which will effectively indicate syndrome in youngsters. The study, exploitation advanced machine learning algorithms designed to spot variations in blood and body waste between syndrome spectrum disorder (ASD) subjects and healthy youngsters, suggests a spread of recent biomarkers that might be associated with the condition. A big hunt is presently afoot for a transparent biomarker which will enable doctors Associate in Nursing objective pathological thanks to diagnose ASD. presently the sole thanks to diagnose the condition is thru behavioural assessments, and most kids are not known as unfit till once the age of 4. The condition is undeniably advanced, with several researchers recognizing the causes as stock-still in Associate in Nursing elusive combination of genetic variants and environmental factors. Previous analysis has recommended Associate in Nursing assortment of attainabl...

10 Hoax Kesehatan Yang Sering Beredar Di Whatsapp Dan Facebook

Massa tergabung dalam Gerakan Muda Anti Hoax (GEMA HOAX) mendesak polisi semoga tindak tegas penyebar hoax. (Foto: Lamhot Aritonang) Jakarta - Whatsapp dan Facebook sering jadi aplikasi yang dipakai orang-orang untuk bertukar informasi. Di dalamnya sering juga muncul hoax-hoax kesehatan. Bagaimana cara supaya kita sanggup mengetahui mana informasi kesehatan di Whatsapp dan Facebook yang patut dicurigai? Sekretaris Jendral Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Dr Berry Juliandi, Msi, menyampaikan biasanya hoax bermain dengan informasi yang membawa pesan impian atau ketakutan. Diperlukan perilaku kritis selalu mewaspadai informasi sehingga tidak gampang untuk mendapatkan informasi gres di Whatsapp dan Facebook . Sebagai pola setidaknya beberapa hoax ini selalu diulang beredar tidak ada matinya di Whatsapp dan Facebook: 1. Main ponsel di kawasan gelap sebabkan tumor mata Informasi soal ancaman main ponsel sambil tiduran seringkali kita dapatkan, mulai dari pesan berisi bahaya-baha...

Hai Wanita, Jangan Terlalu Usang Duduk Bila Masih Sayang Jantung

Usahakan tetap bergerak di kantor demi kesehatan jantung ya Ladies. Foto: Thinkstock Jakarta - Wanita yang suka berolahraga mempunyai sedikit risiko terkena penyakit jantung dibandingkan dengan mereka yang suka duduk dalam waktu lama. Melakukan kegiatan fisik sanggup menurunkan risiko perempuan terkena penyakit kardiovaskular lebih dari 10 persen dan penyakit jantung lebih dari 25 persen. Studi gres telah menunjukkan, bahwa seseorang yang mengurangi duduk dan melaksanakan kegiatan fisik sanggup mengurangi risiko beberapa penyakit ibarat ginjal, paru-paru, hati dan kanker. Dikutip dari Daily Mail , tim dari University of California, San Diego, melaksanakan penelitian untuk mengetahui apakah duduk dalam waktu yang usang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Terungkap, untuk setiap perempuan yang melaksanakan kegiatan fisik mempunyai risiko penurunan 12 persen untuk penyakit kardiovaskular dan risiko penyakit jantung 26 persen lebih rendah. Baca juga: Ciri-ciri Pria dengan J...