Skip to main content

Pasien Dbd Tak Perlu Masuk Rs Jikalau Kondisinya Ibarat Ini

Ada kondisi tertentu pasien DBD tidak perlu dirawat di RS. Foto: iStock Ada kondisi tertentu pasien DBD tidak perlu dirawat di RS. Foto: iStock

Jakarta - Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) bergotong-royong tidak harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Pasien bisa menentukan dirawat di rumah alias rawat jalan dengan kondisi tertentu. Hal ini untuk memastikan kondisi pasien tidak seketika drop yang bisa mengancam keselamatannya.

"Pasien bisa rawat jalan kalau tidak menunjukkan gejala kedaruratan selama 48 jam sehabis terkena demam. Secara keseluruhan peningkatan suhu badan berlangsung kurang dari 3 hari. Namun pasien harus bersedia kontrol setiap hari untuk memastikan kondisinya tetap baik," kata dokter seorang andal penyakit tropik-infeksi Dr dr Leonard Nainggolan SpPD-KPTI dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rabu (13/02/2019).



Tanda-tanda kedaruratan tersebut ialah terjadi syok, kejang, penurunan kesadaran, dan perdarahan. Pasien juga mengalami ketidakmampuan menelan, mulai muncul kondisi penyerta lainnya (komorbid), serta kepekatan darah cenderung naik. Munculnya tanda kedaruratan pertanda pasien sebaiknya dirawat intensif di rumah sakit.

Bagi yang bisa dirawat di rumah, Leonard menyarankan investigasi darah setiap hari. Pemeriksaan ini untuk mengetahui nilai hemoglobin, hematokrit, leukosit, dan trombosit. Nilai leukosit atau sel darah putih dalam kondisi normal ialah 5-10 ribu sel per milimeter kubik. Sementara nilai trombosit ketika badan dalam kondisi baik ialah lebih dari 100 ribu atau 140-450 ribu per mikroliter darah.

Bagi pasien yang menjalani rawat inap atau jalan, Leonard menyarankan kecukupan cairan setiap hari. Hal ini untuk menggantikan cairan plasma darah yang keluar akhir nanah virus dengue. Kecukupan cairan, istirahat, dan pinjaman obat penurun panas ketika ini menjadi cara menghadapi DBD.

Comments

Popular posts from this blog

Potential Blood And Body Waste Check For Syndrome Greeted With Skepticism

A research team at the University of statesman claims to own developed blood and body waste tests which will effectively indicate syndrome in youngsters. The study, exploitation advanced machine learning algorithms designed to spot variations in blood and body waste between syndrome spectrum disorder (ASD) subjects and healthy youngsters, suggests a spread of recent biomarkers that might be associated with the condition. A big hunt is presently afoot for a transparent biomarker which will enable doctors Associate in Nursing objective pathological thanks to diagnose ASD. presently the sole thanks to diagnose the condition is thru behavioural assessments, and most kids are not known as unfit till once the age of 4. The condition is undeniably advanced, with several researchers recognizing the causes as stock-still in Associate in Nursing elusive combination of genetic variants and environmental factors. Previous analysis has recommended Associate in Nursing assortment of attainabl...

10 Hoax Kesehatan Yang Sering Beredar Di Whatsapp Dan Facebook

Massa tergabung dalam Gerakan Muda Anti Hoax (GEMA HOAX) mendesak polisi semoga tindak tegas penyebar hoax. (Foto: Lamhot Aritonang) Jakarta - Whatsapp dan Facebook sering jadi aplikasi yang dipakai orang-orang untuk bertukar informasi. Di dalamnya sering juga muncul hoax-hoax kesehatan. Bagaimana cara supaya kita sanggup mengetahui mana informasi kesehatan di Whatsapp dan Facebook yang patut dicurigai? Sekretaris Jendral Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Dr Berry Juliandi, Msi, menyampaikan biasanya hoax bermain dengan informasi yang membawa pesan impian atau ketakutan. Diperlukan perilaku kritis selalu mewaspadai informasi sehingga tidak gampang untuk mendapatkan informasi gres di Whatsapp dan Facebook . Sebagai pola setidaknya beberapa hoax ini selalu diulang beredar tidak ada matinya di Whatsapp dan Facebook: 1. Main ponsel di kawasan gelap sebabkan tumor mata Informasi soal ancaman main ponsel sambil tiduran seringkali kita dapatkan, mulai dari pesan berisi bahaya-baha...

Hai Wanita, Jangan Terlalu Usang Duduk Bila Masih Sayang Jantung

Usahakan tetap bergerak di kantor demi kesehatan jantung ya Ladies. Foto: Thinkstock Jakarta - Wanita yang suka berolahraga mempunyai sedikit risiko terkena penyakit jantung dibandingkan dengan mereka yang suka duduk dalam waktu lama. Melakukan kegiatan fisik sanggup menurunkan risiko perempuan terkena penyakit kardiovaskular lebih dari 10 persen dan penyakit jantung lebih dari 25 persen. Studi gres telah menunjukkan, bahwa seseorang yang mengurangi duduk dan melaksanakan kegiatan fisik sanggup mengurangi risiko beberapa penyakit ibarat ginjal, paru-paru, hati dan kanker. Dikutip dari Daily Mail , tim dari University of California, San Diego, melaksanakan penelitian untuk mengetahui apakah duduk dalam waktu yang usang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Terungkap, untuk setiap perempuan yang melaksanakan kegiatan fisik mempunyai risiko penurunan 12 persen untuk penyakit kardiovaskular dan risiko penyakit jantung 26 persen lebih rendah. Baca juga: Ciri-ciri Pria dengan J...